Ramadhan tahun ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda dan bermakna bagi para siswa Sekolah Cikal. Bersama KawanPintar dan bekerja sama dengan PSQ (Pusat Studi Qur’an), para siswa SD, SMP, hingga SMA mengikuti sesi pembelajaran bertema Islamic Life Project yang menggabungkan nilai keislaman, social impact, dan future skills dalam satu pengalaman belajar yang menyenangkan.

Melalui program ini, para siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak memahami bagaimana menjadi seorang muslim yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar — bahkan sejak usia muda.
Belajar Bahwa Anak Muda Juga Bisa Membawa Perubahan
Sesi pembelajaran dibuka dengan kisah inspiratif Muhammad Al Fatih, sosok pemimpin muda muslim yang berhasil menaklukkan Konstantinopel di usia remaja.
Cerita tersebut menjadi pengantar penting untuk menunjukkan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk menciptakan perubahan besar. Para siswa diajak merefleksikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memberi dampak bagi lingkungan sekitarnya, dimulai dari langkah kecil yang bisa dilakukan hari ini.
Dari sesi ini, para siswa belajar bahwa kontribusi sosial tidak harus menunggu dewasa, memiliki jabatan, atau mempunyai sumber daya besar. Perubahan bisa dimulai dari kepedulian sederhana terhadap masalah yang ada di sekitar mereka.
Belajar Design Thinking untuk Menciptakan Solusi Sosial
Dalam workshop ini, KawanPintar memperkenalkan framework Design Thinking sebagai metode berpikir kreatif dan problem solving yang banyak digunakan di dunia startup, bisnis, maupun inovasi sosial.
Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta memilih satu masalah sosial yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Mulai dari isu kebersihan lingkungan, kebiasaan membuang makanan, kurangnya kepedulian sosial, hingga tantangan pertemanan dan kesehatan mental remaja — semuanya menjadi topik diskusi yang menarik.
Setelah menentukan masalah yang ingin diselesaikan, para siswa kemudian menjalankan tahapan Design Thinking secara bertahap:
- Empathize → memahami masalah dan sudut pandang orang lain
- Define → merumuskan inti masalah yang ingin diselesaikan
- Ideate → menghasilkan berbagai ide solusi
- Prototype → membuat konsep solusi sederhana
- Test → mencoba dan mendapatkan feedback terhadap solusi yang dibuat
Melalui proses ini, siswa belajar bahwa menciptakan solusi bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga tentang memahami kebutuhan manusia dan berpikir secara terstruktur.
Antusiasme Siswa Saat Mencari 8 Solusi Sekaligus
Salah satu sesi paling seru terjadi saat tahap prototype menggunakan metode Crazy 8. Dalam metode ini, para siswa ditantang untuk memikirkan 8 solusi berbeda dalam waktu singkat terhadap masalah yang mereka pilih.
Awalnya banyak siswa merasa kesulitan karena terbiasa mencari satu jawaban yang dianggap paling benar. Namun seiring proses berjalan, mereka mulai menyadari bahwa sebuah masalah bisa memiliki banyak kemungkinan solusi.
Suasana kelas menjadi sangat aktif dan penuh diskusi. Ada kelompok yang membuat ide kampanye sosial sederhana, ada yang menciptakan konsep kegiatan komunitas, hingga ide aplikasi dan program berbasis kebiasaan baik.
Melalui aktivitas ini, para siswa belajar berpikir lebih terbuka, kreatif, kolaboratif, dan berani menyampaikan ide mereka. Kemampuan seperti critical thinking, collaboration, creativity, dan communication inilah yang menjadi bagian penting dari future skills yang dibutuhkan anak-anak di masa depan.
Menjadi Muslim yang Peduli dan Berdampak
Lebih dari sekadar workshop, Islamic Life Project menjadi ruang refleksi bagi para siswa tentang bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Para siswa belajar bahwa sebagai seorang muslim, kita tidak hanya diajarkan untuk menjadi baik secara personal, tetapi juga peduli terhadap kondisi sosial di sekitar kita.

Dan yang terpenting, mereka belajar bahwa solusi tidak harus selalu besar atau sempurna. Perubahan justru bisa dimulai dari langkah paling kecil, paling sederhana, dan paling mungkin dilakukan hari ini. Karena terkadang, dampak terbesar lahir dari keberanian untuk mulai mencoba.
Melalui program seperti ini, KawanPintar terus berkomitmen menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan nyata — bukan hanya mengembangkan akademik, tetapi juga membentuk karakter, empati, dan kemampuan problem solving anak sejak dini.