Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, banyak orang mulai menyadari bahwa kesuksesan anak tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik atau seberapa banyak pengetahuan yang mereka miliki.
Anak-anak masa kini membutuhkan lebih dari sekadar pelajaran di sekolah. Mereka membutuhkan arahan, pendampingan, dan sosok mentor yang mampu membantu mereka memahami potensi diri, membangun karakter, serta menemukan tujuan hidupnya.

Pesan inilah yang dibawa KawanPintar saat hadir sebagai pembicara di NAMA Summit 2025, sebuah event pendidikan internasional yang diadakan oleh NAMA Foundation — organisasi non-profit yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan masyarakat.
Event tahunan ini mempertemukan para penggerak pendidikan, mentor, social entrepreneur, dan komunitas pembelajaran dari berbagai negara untuk saling berbagi praktik baik serta berkolaborasi menciptakan masa depan pendidikan yang lebih relevan dan berdampak.
Dalam kesempatan tersebut, KawanPintar hadir membawa satu misi penting:
Pendidikan yang baik tidak cukup hanya memberikan knowledge, tetapi juga membutuhkan mentorship.
Ketika Pendidikan Tidak Lagi Cukup Hanya Mengajarkan Pengetahuan
Dalam sesi ini, Dinar Enggar Puspita, Co-Founder sekaligus Director of Operation & Solution KawanPintar, membagikan pengalamannya selama bekerja di perusahaan multinasional seperti Nestlé dan Schlumberger.
Dari pengalamannya di dunia profesional, Kak Dinar menyadari bahwa keberhasilan seseorang di dunia kerja ternyata tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis atau pengetahuan akademik semata.
Ada faktor lain yang jauh lebih menentukan: attitude dan soft skills. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, leadership, empati, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan mentalitas belajar menjadi hal-hal yang justru paling dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
“Knowledge itu penting. Tapi dalam pengalaman saya bekerja, attitude sering kali jauh lebih menentukan bagaimana seseorang berkembang.”
Karena itulah, KawanPintar merancang berbagai program pembelajaran yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga membantu anak mengembangkan soft skills, karakter, dan arah hidupnya melalui proses mentoring yang lebih personal.
Mentoring Membantu Anak Menemukan Makna dari Pembelajaran
Dalam sesinya, Kak Dinar juga membagikan cerita tentang salah satu peserta holiday program KawanPintar bernama Rado, seorang siswa berusia 12 tahun.
Dalam program tersebut, para siswa diajak menyelesaikan permasalahan sosial nyata menggunakan metode Design Thinking, sebuah framework problem solving yang biasa digunakan oleh startup dan perusahaan teknologi untuk memahami kebutuhan pengguna dan menciptakan solusi inovatif.
Namun di KawanPintar, Design Thinking tidak hanya digunakan untuk menciptakan produk bisnis. Metode ini digunakan untuk membantu anak belajar memahami manusia, membangun empati, dan menemukan solusi terhadap masalah sosial di sekitar mereka.
Rado dan peserta lainnya diminta mengamati kondisi di sebuah panti asuhan, memahami tantangan yang ada, lalu mencoba mencari solusi melalui lima tahapan Design Thinking:
- Empathize
- Define
- Ideate
- Prototype
- Test
Melalui proses ini, anak-anak belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian dan keberanian untuk mencoba.
Dari Anak yang Bingung Menjadi Anak yang Punya Arah
Setelah melalui tujuh sesi mentoring dan pembelajaran, Rado mulai mengalami perubahan cara pandang terhadap dirinya dan lingkungan sekitar. Di akhir program, ia menyampaikan refleksi sederhana namun sangat bermakna:
“Sekarang saya tahu kalau saya bisa membuat perubahan. Saya tidak perlu menunggu jadi presiden atau menteri dulu. Saya bisa mulai dari lingkungan saya sendiri.”
Bagi KawanPintar, momen seperti inilah yang menjadi inti dari proses belajar. Karena tujuan pendidikan bukan hanya membuat anak pintar menjawab soal, tetapi membantu mereka menemukan keberanian untuk berpikir, peduli, dan bertindak.
Dan proses itu sering kali lahir bukan dari ceramah satu arah, melainkan dari hubungan mentoring yang dekat dan suportif.
Education Gives Knowledge, Mentorship Gives Direction
Di akhir sesi, Kak Dinar menutup presentasinya dengan satu refleksi yang menjadi filosofi penting dalam proses belajar di KawanPintar:
“Education gives knowledge, but mentorship gives direction.”
Menurutnya, ketika anak memiliki mentor atau guru yang tepat, mereka tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga belajar memahami diri sendiri, membangun kepercayaan diri, dan menentukan arah hidup yang lebih baik.
Mentorship membantu anak merasa didengar, dipahami, dan didampingi dalam proses bertumbuhnya. Dan ketika anak memiliki arah yang jelas, hasilnya bukan hanya mereka menjadi murid yang lebih baik — tetapi juga manusia yang lebih baik.
KawanPintar dan Komitmen Menghadirkan Pembelajaran yang Lebih Bermakna
Partisipasi KawanPintar di NAMA Summit 2025 menjadi bagian dari komitmen untuk terus menghadirkan model pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
Bukan hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, soft skills, future skills, dan mentoring yang membantu anak berkembang secara utuh.
Karena di masa depan, anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Mereka membutuhkan arah, pengalaman, dan sosok mentor yang percaya bahwa mereka mampu bertumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya.