Bagaimana cara membangun gerakan sosial yang benar-benar berdampak, tetapi tetap bisa bertahan dalam jangka panjang?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu topik utama yang dibawa KawanPintar saat hadir di Istanbul Youth Summit 2025, sebuah forum internasional yang mempertemukan para changemaker muda, social entrepreneur, dan pelajar dari berbagai negara untuk berdiskusi tentang solusi masa depan bagi berbagai tantangan sosial dunia.

Dalam kesempatan tersebut, Dharmaji Suradika, Co-Founder sekaligus Direktur Bisnis KawanPintar, berbagi pengalaman membangun KawanPintar sebagai sebuah sociopreneur pendidikan yang tidak hanya fokus pada dampak sosial, tetapi juga berupaya membangun sistem bisnis yang sustainable.
Bagi KawanPintar, dampak sosial yang baik tidak cukup hanya dimulai dengan niat baik. Dampak harus bisa bertahan, berkembang, dan menjangkau lebih banyak orang secara konsisten.
Tantangan Besar Gerakan Sosial: Berdampak Tapi Tidak Bertahan Lama
Dalam diskusi tersebut, Kak Aji menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dari banyak inisiatif sosial di Indonesia adalah keberlanjutan gerakannya.
Banyak komunitas atau gerakan sosial memiliki semangat membantu yang besar, namun kesulitan bertahan karena terlalu fokus pada dampak tanpa membangun model bisnis yang sehat. Akibatnya, banyak program berhenti di tengah jalan karena keterbatasan dana, sumber daya, atau energi dari para penggeraknya.
“Kadang kita terlalu fokus membantu orang lain sampai lupa membangun sistem yang membuat gerakan itu bisa bertahan.”
Selain masalah finansial, tantangan lain yang sering dialami para social entrepreneur adalah kelelahan mental dan emosional. Banyak penggerak sosial memulai dengan semangat tinggi, tetapi perlahan kehilangan energi karena menghadapi proses yang panjang, tekanan yang besar, dan hasil yang tidak selalu langsung terlihat.
Karena itulah, menurut Kak Aji, membangun bisnis sosial membutuhkan mindset jangka panjang.
The Hero’s Journey: Kegagalan Adalah Bagian dari Perjalanan
Dalam sesi tersebut, Kak Aji juga memperkenalkan framework The Hero’s Journey untuk menggambarkan perjalanan seorang changemaker atau sociopreneur.

Framework ini menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin membawa perubahan akan melewati fase-fase sulit: kebingungan, penolakan, kegagalan, kehilangan arah, hingga akhirnya bertumbuh melalui proses tersebut.
Melalui pendekatan ini, peserta diajak memahami bahwa kegagalan bukan tanda untuk berhenti, melainkan bagian alami dari perjalanan membangun dampak sosial.
“Kalau ingin menyelesaikan masalah sosial, kita harus siap menjalani proses panjang. Akan ada banyak kegagalan sebelum akhirnya menemukan cara yang benar-benar bekerja.”
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi banyak peserta summit yang sedang membangun komunitas, startup sosial, maupun gerakan pendidikan di negaranya masing-masing. Karena sering kali, tantangan terbesar bukanlah memulai gerakan — tetapi bertahan dan terus belajar di tengah prosesnya.
Enam Tantangan yang Sering Dihadapi Sociopreneur
Berdasarkan pengalamannya membangun berbagai inisiatif pendidikan di Indonesia, Kak Aji membagikan enam tantangan utama yang paling sering dihadapi seorang sociopreneur:
- Menemukan “Why”
Menemukan alasan yang kuat mengapa kita ingin menyelesaikan sebuah masalah sosial. Karena tanpa purpose yang jelas, seseorang akan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. - Mencari Mentor
Banyak penggerak sosial berjalan sendirian tanpa mentor atau lingkungan belajar yang tepat. Padahal mentorship dapat membantu mempercepat proses belajar dan menghindari banyak kesalahan. - Menunggu Momentum
Banyak orang ingin memulai gerakan sosial, tetapi terus menunggu waktu yang “sempurna”. Padahal momentum terbaik sering kali justru datang setelah kita mulai bergerak. - Mengembangkan Skill yang Belum Dimiliki
Membangun bisnis sosial tidak cukup hanya punya empati. Seorang sociopreneur juga perlu belajar leadership, marketing, komunikasi, problem solving, hingga financial management. - Membangun Tim
Dampak sosial tidak bisa dibangun sendirian. Diperlukan tim yang memiliki visi yang sama dan mampu bertumbuh bersama dalam prosesnya. - Menumbuhkan Dampak Secara Berkelanjutan
Banyak gerakan mampu memulai dampak kecil, tetapi kesulitan memperbesar dampaknya secara sistematis dan sustainable. Karena itu scalability menjadi hal penting yang perlu dipikirkan sejak awal.
Jangan Belajar Masalah Sosial Hanya dari Data
Di akhir sesi, Kak Aji membagikan pesan penting bagi para peserta summit yang ingin memulai gerakan sosial.

Menurutnya, memahami masalah sosial tidak cukup hanya melalui laporan, data, atau media sosial.
“Kalau ingin memahami kemiskinan, jangan hanya belajar dari data. Datang langsung, lihat, rasakan, ngobrol dengan orang-orangnya, lalu mulai pikirkan solusi bersama mereka.”
Bagi KawanPintar, proses belajar terbaik selalu dimulai dari pengalaman nyata dan empati yang autentik. Karena solusi yang baik lahir dari kedekatan dengan masalah, bukan sekadar asumsi.
Start Small, Scale Fast
Kak Aji juga menekankan pentingnya memiliki mindset problem solving dan scalability sejak awal membangun gerakan sosial.
Banyak orang terlalu lama berhenti di tahap memahami masalah tanpa benar-benar mulai mencoba solusi. Padahal perubahan selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara nyata.
“Mulailah dari solusi paling sederhana yang bisa dilakukan sekarang. Start small, but scale fast.”
Langkah awal tidak harus besar. Namun sebuah solusi perlu dirancang agar suatu hari bisa diperbesar dampaknya dan menjangkau lebih banyak orang.
Membangun Masa Depan Pendidikan yang Lebih Berdampak
Partisipasi KawanPintar di Istanbul Youth Summit 2025 menjadi bagian dari komitmen untuk terus membangun pendidikan yang tidak hanya relevan bagi siswa, tetapi juga berdampak bagi masyarakat secara lebih luas.
Melalui semangat sociopreneurship, KawanPintar percaya bahwa pendidikan dapat menjadi alat untuk menciptakan perubahan sosial yang nyata — selama dibangun dengan empati, sistem yang berkelanjutan, dan keberanian untuk terus belajar dari proses.
Karena perubahan besar selalu dimulai dari orang-orang yang berani peduli dan memilih untuk mulai bergerak.