Dalam salah satu sesi inspiratif di BelajaRaya 2026, Direktur Sekolah Murid Merdeka, Yason Pranata, berbagi perspektif penting tentang pendidikan inklusif dan bagaimana lingkungan belajar yang tepat dapat membantu setiap anak berkembang sesuai potensinya.
Melalui sesi bertema “Belajar yang Utuh dan Inklusif: Mengembangkan Akademik, Soft Skills, dan Potensi Setiap Anak”, para peserta diajak untuk melihat kembali makna pendidikan — bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga tempat anak belajar menjadi manusia yang peduli, empatik, dan mampu hidup berdampingan dengan perbedaan.
Kelas Inklusif Bukan Hanya untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Masih banyak orang yang menganggap bahwa kelas inklusi hanya memberikan manfaat bagi anak berkebutuhan khusus atau anak inklusi. Padahal kenyataannya, lingkungan belajar yang inklusif justru memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga bagi semua anak.
Dalam sesi tersebut, Mas Yason membagikan sebuah pengalaman mengharukan saat Festival Murid Merdeka berlangsung.
Pada acara itu, seluruh murid diminta tampil di atas panggung. Salah satu murid ADHD ternyata memiliki sensitivitas tinggi terhadap cahaya dan keramaian, sehingga situasi panggung yang penuh lampu membuatnya merasa tidak nyaman dan mulai panik.
Di tengah situasi tersebut, salah satu murid lain tiba-tiba berkata:
“Bu, biar saya saja yang menggandeng dia ke panggung supaya dia merasa aman.”
Momen sederhana itu menjadi pengalaman belajar yang sangat bermakna. Bukan hanya bagi anak ADHD tersebut, tetapi juga bagi seluruh anak yang menyaksikan bagaimana empati, kepedulian, dan rasa aman dapat tumbuh secara alami ketika anak berada dalam lingkungan yang inklusif.
Menurut Yason Pranata, inilah nilai penting dari pendidikan inklusif. Anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki tantangan yang berbeda. Mereka belajar memahami bahwa tidak semua orang memiliki kondisi yang sama, dan bahwa membantu orang lain adalah bagian penting dari kehidupan.
“Hari ini mungkin kita membantu orang lain. Di lain waktu, bisa jadi justru kita yang membutuhkan bantuan.”
Nilai-nilai seperti empati, toleransi, komunikasi, dan kemampuan memahami perbedaan merupakan bagian dari soft skills yang sangat dibutuhkan anak di masa depan — namun sering kali tidak diajarkan secara langsung di ruang kelas konvensional.
Peran Penting Shadow Teacher dan Guru Pendamping
Dalam kesempatan yang sama, Yason Pranata juga menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang telah berjalan antara Sekolah Murid Merdeka dan KawanPintar.
Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah penyediaan Shadow Teacher atau guru pendamping untuk mendukung proses belajar anak inklusi di sekolah.

Bagi banyak orang tua yang memiliki anak ADHD atau anak berkebutuhan khusus lainnya, mencari guru pendamping yang tepat sering kali menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya membutuhkan guru yang kompeten secara akademik, tetapi juga seseorang yang mampu memahami karakter anak, sabar mendampingi proses belajar, serta mampu bekerja sama dengan sekolah dan orang tua.
Melalui kolaborasi ini, KawanPintar membantu menghadirkan sistem pendampingan yang lebih terstruktur dan profesional sehingga orang tua tidak perlu lagi mencari shadow teacher secara mandiri.
Mas Yason menjelaskan bahwa keberadaan guru pendamping dari KawanPintar memberikan rasa tenang bagi orang tua maupun pihak sekolah.
“Guru-guru yang profesional, proses koordinasi yang baik, hingga sistem penggantian guru yang cepat ketika ada guru yang berhalangan menjadi salah satu alasan mengapa kerja sama ini berjalan positif. Kami sangat terbantu sekali dengan kerjasama yang baik ini.”
Dengan dukungan shadow teacher yang tepat, anak-anak inklusi dapat mengikuti kegiatan belajar dengan lebih nyaman, fokus, dan percaya diri bersama teman-temannya tanpa merasa dibedakan. Yang terpenting, mereka tetap dapat tumbuh dalam lingkungan sosial yang sehat dan suportif.
Pendidikan Inklusif Adalah Tentang Memberi Ruang untuk Semua Anak
KawanPintar percaya bahwa setiap anak memiliki cara belajar, kebutuhan, dan potensi yang berbeda. Karena itu, pendidikan inklusif bukan hanya soal menyediakan fasilitas tambahan bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi tentang menciptakan lingkungan belajar yang mampu menerima keberagaman dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak untuk berkembang.
Ketika anak belajar dalam lingkungan yang inklusif, mereka tidak hanya belajar akademik. Mereka belajar memahami emosi, belajar bekerja sama, belajar membantu teman, belajar berempati, dan belajar menjadi manusia yang lebih utuh. Hal-hal inilah yang akan menjadi bekal penting bagi mereka di masa depan.
KawanPintar Mendukung Pendidikan yang Lebih Inklusif
Sebagai partner belajar anak dan keluarga, KawanPintar terus berkomitmen mendukung terciptanya pendidikan yang lebih inklusif melalui layanan pendampingan belajar, shadow teacher, hingga program pengembangan soft skills yang berfokus pada kebutuhan unik setiap anak.
Karena setiap anak berhak merasa diterima, didengar, dan mendapatkan akses belajar terbaik. Dan ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan suportif, mereka bukan hanya berkembang secara akademik — tetapi juga berkembang sebagai manusia.
Mari bersama membangun pengalaman belajar yang lebih inklusif untuk semua anak.
Ikuti terus perkembangan informasi dan program edukasi dari KawanPintar.